ES Dawet

Image078

Para pembaca sekalian, saat ini saya mau membagi cerita tentang kuliner saya. Kita tahu di Indonesia memiliki banyak jenis makanan dan minuman, namun saat ini saya akan mengenalkan salah satu  minuman khas Indonesia [moga tidak di klaim sama Malaysia] yaitu es dawet. Mungkin para pembaca sekalian pernah merasakan nikmatnya minum es dawet.

Saat liburan lebaran, saya kebetulan pulang kampung, kebetulan kota kelahiran saya adalah kota klaten. Kota yang berada diantara 2 kota besar yaitu kota jogja dan solo. Saat itu pun ibu saya mau beli daging sapi karena mau buat srundeng, jadi saya harus mengantar ibu saya ke pasar klaten. So, kebetulan didalam pasar terdapat penjual es dawet yang sejak kecil penjual tersebut masih ada, tapi saya gak tau namanya siapa. Sebelum saya menceritakan penjualnya, say akan ngasih tau kepada para pembaca sekalian bahwa minuman dawet dibuat dari cendol, gula aren yang cair, ditambah dengan santan. Trus namanya jadi es dawet ditambah es balok. Jadi disana ada beberapa manci, yang berisi cendol santan, gula. Dan biasanya disajikan dalam bentuk mangkuk, dan langsung diminum. Dan jangan kaget tentang harganya, saat aku membayarnya pun merasa gak percaya. Es Dawet semangkok Cuma dihargain 1000 perak bro. Dan es dawet tersebut tidak kalah dengan es dawet asal banjarnegara. Kalo berminat silahkan datang ke pasar klaten, tepatnya berada dilantai dasar, pasar klaten berada ddiblakang matahari klaten.Image075Image076Image077

Mengapa Perlu Berdoa dengan Sabar ?

George Muller, yang dijuluki sebagai seorang pejuang doa dan iman menghidupi anak-anak yatim-piatu tanpa pernah mengemis. Hingga menjelang akhir hayatnya (1897) jumlah yatim piatu yang ada padanya sekitar 9.500 orang, dan tak pernah sekalipun mereka tidak makan. Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan anak-anak yatim piatu yang diasuhnya dalam 70 tahun pelayanannya. George Muller dipanggil Tuhan dalam usia 93 tahun (1805-1898). Pada bulan Nopember 1844, Muller mulai berdoa untuk pertobatan 5 orang. Setiap hari dia berdoa, baik dalam keadaan sakit, sehat, dalam perjalanan di darat, di laut atau apapun kesibukannya. Delapan belas bulan kemudian seorang dari 5 orang tersebut bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Muller bersyukur untuk pertobatan 1 orang tersebut dan terus berdoa untuk empat orang lainnya.

Lima tahun berikutnya 1 orang lagi bertobat dan Muller mensyukurinya dan terus mendoakan yang 3 orang lagi. Enam tahun kemudian 1 orang lagi bertobat dan menjadi Kristen. Sampai dengan 36 tahun sejak mulai berdoa, yaitu pada saat Muller memberikan kesaksian ini (November 1890), 2 orang lainnya belum bertobat. Namun menjelang Muller pergi ke pangkuan Bapa Sorgawi, 1 orang bertobat sedangkan 1 orang lainnya bertobat kemudian setelah Muller meninggalkan dunia. (Dikutip dari George Muller, oleh Roger Steer).

Pesan dari cerita ini: Apabila Anda terbeban untuk mendoakan orang-orang, sekalipun mereka dalam pandangan manusia tidak mungkin untuk bertobat, berdoalah terus untuk mereka. Kesetiaan dalam doa tidak akan pernah sia-sia, bahkan kalau kita tidak ada lagi di bumi. Bagaimana kalau mereka adalah orang-orang yang Anda kasihi?

True story from Jim Caviezel

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.

Saya berkata pada Mel, “Saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.”

Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.

Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia.
Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru kepada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mukjizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas
kayu salib itu, disamping kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak, “Dia sadar! Dia sadar!”.

“Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mukjizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi? Apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan?” Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat kepada-Nya,
supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton “The Passion Of Jesus Christ”, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya kepada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul dalam doa selama pembuatan film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

Pengalaman Bermain Game

Game adalah permainan, dimana game dapat di implementasikan didalam beberapa cara, baik didalam ruang , dalam gedung, namun juga game juga ada didalam computer atau dalam benda eletronik. Namun disini kita akan membahas game dalam sebuah computer  atau didalam benda elektronik. Mungkin kita sudah mengetahui hal itu dan kita sering memainkan sebuah game tersebut, bahkan terdapat seseorang yang addict terhadap sebuah game, dimana game dapat dimainkan dalam berhari hari, lupa makan, dan lupa akan kegiatan luar. Dan ada orang yang tiap hari harus bermain game karena tanpa game hidup terasa hampa, bahkan kita pernah ngambek sama orang tua untuk membelikan sebuah peralatan game. Pengalaman dimana saat pertama kali mengenal game adalah game console dari Nintendo. Saat itu saya masih kelas SD, sangat menarik permainannya, didalam game tersebut terdapat game game yang menjadi maestro terhadap game game yang lain. Salah satu gamenya adalah game super Mario, setiap orang pasti mengenal akan game tersebut, dimana pada akhir stage sang super Mario mengambil sebuah bendera. Hal tersebut salah satu scenario atau ide cerita yang ada dalam sebuah permainan itu, dan masih banyak lagi game game yang membuat seseorang merasa senang akan mempermainkan game tersebut. Setelah beberapa tahun Nintendo, ternyata terdapat game console yaitu Playstation 1 dimana game yang terpopular adalah menurut saya adalah game wining eleven, karena menurut saya game tersebut game sport yang cukup interaktif dan sangat mendekati sama yang aslinya dalam hal ini dalam permainannya. Dan cukup berkembang, dan plastation cukup menjamur di Indonesia, bahkan plastation ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi para penduduk Indonesia, karena playstation dapat disewakan yang dulu saat saya masih kelas 5 6an SD tarif antara 1500 sampai 2000. DImana kaset yang digunakan berupa CD, dan data untuk menyimpan dinamakan memory card. Dalam memory card ini direpresentasikan dalam blok blok, dan setiap memory card memiliki 16 blok memory. Dan dalam setiap game biasanya membutuhkan 2 blok memory. Setelah playstation 1, saat saya kelas 2 smp saya baru mengenal PS 2, maklum saya merupakan orang yang kurang pergaulan dan berada dikota terkecil, sehingga kemajuan sebuah teknologi datang diwaktu akhir. Saat pertama kali memakai playstation 2, ternyata kualitas gambarnya lebih baik dan lebih menuju ke 3 dimensi. Namun system yang digunakan PS 2 dimana disc yang digunakan adalah DVD sehingga ukuran dalam game yang ada dalam PS 2 lebih besar daripada PS1, meskipun saat itu juga Nintendo wii dan Xbox juga meluncurkan namun saya tidak pernah menggunakan game itu. Dan saat ini PS 3 pun sudah ada. Dan dari kaskus ternyata Playstation 4 sudah dibangun dengan style sporty dan layar sentuh dan memiliki layar OLED yang tertanam dalam playstation. Mungkin kita lebih mendalam dengan playstation karena playstation merupakan game console yang sering saya pakai.

Kalo kita lihat game game yang pernah kita pakai dulu, mungkin kita tidak pernah berfikir terhadap orang yang membuat game tersebut. Mungkin kita hanya menikmati hasilnya, namun saat ini kita harus  belajar bagaimana kita juga memproduksi sebuah game tersendiri. Mungkin pendapatan para penghasil game yang cukup luar biasa (gaji besar). Mungkin dengan menjual produk produk yang telah diproduksi berupa game consolenya, selain itu marchendise, dan lain lain. Sehingga tak salah proyek dalam membuat game cukup menggiurkan, kalo kita melihat dalam bentuk pemasukkan yang ada, hal ini dapat kita lihat betapa suksesnya Sony dalam membuat sebuah console game yang luar biasa.

Salah satu pengalaman saya dalam membuat game, adalah membuat game yang sederhana dengan menggunakan bahasa pascal. Game tersebut berupa game SOS, dimana game tersebut seperti catur. Game tersebut masih bersifat primtif sekali, kalo kita dibandingkan dengan game game yang ada selama ini. Bahkan game sekarang terdapat dalam bentuk web, dimana game tersebut bekerja dalam sebuah web sehingga kita dapat bermain dengan pihak luar, sehingga ruang lingkupnya lebih luas. Perkembangan game saat ini cukup cepat, dan bahkan tiap hari pun terdapat game terbaru.

Salah satu topic utama dalam membuat game adalah ide cerita, hal tersebut saya sangat setuju sekali karena ide cerita yang nantinya menarik perhatian pengguna untuk memakai game itu terus menerus, dan ketagihan. Karena dengan ketagihanlah sebagai salah satu parameter game itu sukses atau tidaknya.

Kisah Tiga Pohon,

Suatu kali peristiwa ada tiga pohon di atas sebuah bukit dalam sebuah hutan. Mereka sedang berbincang-bincang tentang harapan-harapan dan mimpi-mimpi mereka.
Pohon yang pertama berkata, Suatu hari nanti aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat penyimpanan harta. Aku bisa dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit, setiap orang akan melihat kecantikanku. Kemudian pohon yang kedua berkata, Suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal yang besar.Aku akan membawa para raja dan ratu mengarungi lautan sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang akan merasa aman dalamku karena kekuatan dari tubuhku. Akhirnya pohon yang ketiga berkata, Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi terkuat di hutan ini. orang akan memandangku dari atas puncak bukit dapat melihat carang-carangku. Kalau orang berpikir ttg surga Allah betapa dekatnya jangkauanku ke sana.Aku akan menjadi pohon yang terbesar di sepanjang waktu orang akan mengingat aku senantiasa.

Setelah beberapa tahun berdoa mimpi mereka menjadi kenyataan, datanglah satu kelompok penebang kayu ke hutan itu. Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon pertama ia berkata, Kelihatannya pohon ini kuat sekali, aku kira ini dapat dijual kepada seorang tukang kayu dan ia mulai menebang pohon itu. Pohon tersebut bahagia sekali karena ia tahu bahwa si tukang kayu akan menjadikannya sebuah peti penyimpan harta. Seorang penebang kayu lainnya berkata kepada pohon yang kedua, Kelihatannya pohon ini kuat aku dapat menjualnya kepada tukang pembuat kapal. Pohon tersebut bahagia karena ia tahu ia akan menjadi sebuah kapal yang besar. Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon yang ketiga, pohon tersebut ketakutan karena ia tahu kalau ia sampai ditebang., maka mimpinya tdk akan menjadi kenyataan. Salah seorang penebang kayu berkata, Aku tdk perlu sesuatu yang spesial dari pohon ini jadi aku bawa saja ditebanglah pohon itu.
Ketika pohon pertama dibawa kepada tukang kayu, ia dijadikan sebuah kotak tempat makanan hewan. Ia diletakkan di sebuah kandang dipenuhi dgn jerami. Hal ini bukanlah seperti yang pohon tersebut doakan. Pohon kedua dipotong-potong dijadikan sebuah perahu kecil pemancing ikan. Mimpinya menjadi sebuah kapal yang besar yang dpt membawa para raja berakhir sudah.Pohon ketiga dipotong-potong dalam ukuran yang besar-besar ditinggali begitu saja dalam kegelapan.

Tahun demi tahun berlalu pohon-pohon tersebut sudah lupa akan mimpi mereka. Suatu hari ada seorang pria wanita datang ke kandang tersebut. Si wanita melahirkan seorang bayi meletakkan bayi tersebut dalam kotak makanan hewan (yang dibuat dari pohon pertama) yang dipenuhi jerami. Si pria berharap mendapatkan tempat tidur utk bayi tersebut tapi palungan itulah yang menjadi tempatnya. Pohon tersebut dapat merasakan betapa penting peristiwa tersebut ia telah menyimpan harta yang termulia sepanjang jaman.

Tahun-tahun berikutnya, sekelompok orang berada dalam sebuah perahu pemancing ikan dibuat dari pohon yang kedua. Salah seorang dari mereka sedang kelelahan akhirnya tertidur. Ketika mereka ada di tengah-tengah laut, gelombang besar melanda mereka pohon tersebut tdk menyangka kalau ia cukup kuat utk menyelamatkan orang-orang yang ada dalam perahu tersebut. Orang-orang tersebut membangunkan orang yang sedang tidur itu, kemudian ia berdiri sambil berkata diam, tenanglah gelombang tersebut berhenti. Kali ini pohon tersebut menyadari bahwa ia telah membawa raja diatas segala raja dalam perahunya.
Akhirnya ada seorang datang mendapatkan pohon yang ketiga. Pohon tersebut diseret sepanjang jalan banyak yang mengejek orang yang sedang memikul kayu tersebut. Ketika mereka sampai pada suatu tempat, orang tersebut dipakukan pada kayu tersebut diangkat tinggi sampai mati di atas sebuah puncak bukit. Ketika hari Minggu tiba, pohon tersebut menyadari bahwa ia cukup kuat utk tegak berdiri diatas puncak berada sedekat mungkin dgn Allah karena Yesus telah disalibkan pada kayu pohon tersebut.

Catatan:
Ketika segala rencana tdk sesuai dgn apa yang kita harapkan, selalu ingat bahwa Allah punya rencana utk saudara. Kalau kita menaruh percaya padaNya, Ia akan memberi saudara karunia-karunia besar. Masing-masing pohon tersebut mendapatkan apa yang mereka ingini, cuma tdk seperti yang mereka bayangkan.